Saturday, February 6, 2016

Khutbah Jum'at: Merawat Perdamaian Dalam Perbedaan

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ، وَحَثَّنَا عَلَى الصَّلَاحِ، وَبَيَّنَ لَنَا سُبُلَ الْفَلَاحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوْصِيْكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلّ، قَالَ تَعَالَى: فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Hadirin jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah
Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda, baik dalam bentuk, watak, pemikiran, keahlian, kepentingan, keyakinan, maupun yang lainnya. Perbedaan yang menjadi sunnatullah ini bagian dari anugerah yang Allah berikan supaya manusia dapat saling mengenal, sehingga dapat saling membantu dan saling melengkapi, atau bergotong royong.
Dalam QS. Al-Hujurât 13 dinyatakan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Dalam QS. Hûd 118 Allah menegaskan bahwa perbedaan di antara manusia selamanya akan terus berlangsung.
وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً واحِدَةً وَلا يَزالُونَ مُخْتَلِفِينَ
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih.”
Menurut Ibnu Katsîr, ayat di atas maksudnya ialah perbedaan akan terus terjadi di antara manusia; dalam masalah agama, keyakinan, tradisi, pendapat, maupun pandangannya. (Ibnu Katsir, vol IV, hal. 310, cet. I, 1419).

Jamaah sholat Jumat yang berbahagia
Dalam praktiknya, perbedaan yang ada ini kerap memicu konflik di antara manusia. Hanya karena berbeda paham, berbeda kepentingan, berbeda agama, partai, berbeda pendapat maupun pendapatan, seseorang atau kelompok tertentu bermusuhan dengan yang lainnya.
Dalam keadaan konflik, perbedaan yang seharusnya dipahami sebagai anugerah yang membawa manfaat, justru dipertentangkan hingga mengobarkan api permusuhan. Karena itu Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi “juru damai” di antara orang-orang yang sedang bermusuhan.
Mendamaikan orang-orang yang bermusuhan, dalam bahasa Arab disebut dengan ishlâhu dzâti al-bain. Dalam QS. An-Nisâ 114 disebutkan:
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh memberi sedekah, atau berbuat kebaikan, au ishlâhi baina an-nâs (atau mengadakan perdamaian di antara manusia). Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridlaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”
Dalam hadis diriwayatkan bahwa nabi Muhammad Saw bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ
“Apakah saya belum memberikan kabar kepada kalian tentang perbuatan yang derajatnya lebih utama daripada puasa, sholat dan sedekah?”
Para sahabat menjawab: بَلَى (Ya, belum).
Nabi bersabda:
صَلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
“(Perbuatan yang derajatnya lebih utama daripada puasa, sholat dan sedekah), yaitu mendamaikan orang yang sedang berselisih.”
Dalam hadis lain diriwayatkan, nabi Muhammad Saw bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
“Paling utama-utamanya sedekah adalah mendamaikan orang yang bermusuhan.”
Diinformasikan, suatu ketika penduduk Qubâ` bertikai, di antara mereka saling melempar batu. Ketika nabi Muhammad mendengar kabar itu, kepada sahabat-sahabatnya, beliau bersabda:
اِذْهَبُوا بِنَا نُصْلِح بَيْنَهُم
“Pergilah bersama kami, mari kita damaikan di antara mereka (penduduk Qubâ`).”

Hadirin jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah
Mendamaikan konflik atau merukunkan kembali orang-orang yang bermusuhan, menurut Al-Qâdlî Abû Bakar Ibnu al-‘Arabi dalam karyanya, Ahkâm al-Qur`ân, hukumnya fardlu kifâyah atau menjadi kewajiban komunal, yakni kewajiban yang jika sudah dijalankan oleh salah seorang maka kewajiban lainnya menjadi gugur. Dan jika tidak ada yang melaksanakan, maka semuanya menanggung dosa. (Al-Qâdlî Abû Bakar Ibnu al-‘Arabi, vol. I, hal. 105, cet. III, 2003).
Perintah mendamaikan juga berlaku bagi orang yang terlibat di dalam konflik itu, yakni mengalah untuk berdamai meski sangat berat dilakukan. Nabi Muhammad Saw bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ
“Tidak boleh bagi seseorang memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Apabila keduanya bertemu, maka saling berpaling dari yang lainnya. Sebaik-baik keduanya adalah yang mengawali salâm atau mengajak berdamai.”

Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullah,
Tanpa ada perdamaian di tengah perbedaan, niscaya kehidupan ini akan kacau dan selalu dirundung pertikaian. Karena itu jalan perdamaian harus terus diupayakan, baik ada konflik maupun tidak. Sangkin pentingnya mewujudkan perdamaian, segala cara boleh dilakukan demi mewujudkannya. Nabi bersabda:
لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ
“Bukan seorang pembohong orang yang sedang berusaha mendamaikan masyarakat.”
Artinya, jika upaya mendamaikan dua kubu yang bermusuhan hanya bisa ditempuh dengan cara berbohong, maka berbohong dalam hal ini diperbolehkan.
Akhirul kalâm, seorang muslim harus menjadi juru damai yang memadamkan api permusuhan, bukan menjadi provokator yang mengobarkan api pertikaian.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ, وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعَالَى إِنََّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ! إِنََّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ, وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكم, وَلَذِكرُ اللهِ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.



 Sumber: NU Jateng

Khutbah Jum'at: Cinta Menurut Nabi dan Sahabatnya

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ وَقَدَّرَ الأَشْيَاءَ، وَاصْطَفَى مِنْ عِبَادِهِ الرُّسُلَ وَالأَنْبِيَاءَ، بِهِمْ نَقْتَدِي وَبِهُدَاهُمْ نَهْتَدِي، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَنْزَلَ عَلَيْهِ رَبُّهُ الْقُرْآنَ الْمُبِيْنَ, هُدًى وَنُوْرًا لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ رِسَالَتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, وَآلِ كُلٍّ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Hadirin Jumah Yang Berbahagia
Khutbah kita kali ini akan mengkaji konsep cinta sesuai dengan apa yang pernah ditawarkan dan dicontohkan oleh Rasul Saw dan para sahabatnya.
Namun sebelumnya, ada baiknya disampaikan satu hal mengenai pendapat ulama terhadap keabsahan suatu riwayat atau hadis supaya lebih jelas persoalan yang akan kita bahas dalam khutbah ini.

Para Hadirin Yang Berbahagia
Secara garis besar, ada dua klasifikasi atau pembagian hadis, yaitu; shohih dan ghoiru shohih. Untuk hadis yang shohih adalah sudah jelas boleh dan legal digunakan untuk sebagai dasar pengambilan hukum-hukum syariah yang meliputi wajib, mubah, sunnah, makruh dan haram. Kemudian untuk hadis yang ghoiru shohih, maka dibagi lagi ke dalam pembagian terperinci yang bisa dipelajari lebih lanjut dalam disiplin ilmu Mustholahul Hadis. Nah, di antara Hadis ghoiru shohih itu terdapat kelompok Hadis yang disebut sebagai hadis dlo`if atau lemah. Hadis seperti ini oleh Imam an-Nawawi dianggap boleh dijadikan landasan terhadap hal-hal di luar kewajiban dan keharaman, yaitu hal-hal yang baik seperti konsep hidup bertetangga, konsep pergaulan sosial dan semacamnya, dengan syarat-syarat tertentu di antaranya adalah harus didukung oleh dalil-dalil lain yang sudah jelas keshahihannya.
Nah, berikut ini akan kita kaji sebuah hadis atau riwayat yang memang belum tergolong shahih, namun seperti yang dinyatakan Imam an-Nawawi tadi adalah tidak keliru jika kita ambil sebagai landasan hikmah dan penggalian nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman hidup kita sebagai makhluk sosial yang pasti selalu berinteraksi dengan antarsesama.

Hadirin Rohimakumullah
Dalam sebuah kitab yang bertitel Al-Mawâhib Al-Laduniyyah, disebutkan sebuah riwayat yang lumayan panjang redaksinya yaitu:
جلس رسول الله صلى الله عليه وسلم مع اصحابه رضي الله عنهم وسألهم مبتدأ بأبي بكر ماذا تحب من الدنيا؟
فقال ابي بكر ( رضي الله عنه) أحب من الدنيا ثلاثا الجلوس بين يديك – والنظر اليك – وأنفاق مالي عليكوانت يا عمر؟ قال احب ثلاثا :امر بالمعروف ولو كان سرا – ونهي عن المنكر ولو كان جهرا – وقول الحق ولو كان مرا، وانت يا عثمان؟ قال احب ثلاثااطعام الطعام – وافشاء السلام – والصلاة باليل والناس نيام، وانت يا علي؟ قال احب ثلاثاكرام الضيف – الصوم بالصيف – وضرب العدو بالسيف،ثم سأل أبا ذر الغفاري: وأنت يا أبا ذر : ماذا تحب في الدنيا ؟ قال أبو ذر:أحب في الدنيا ثلاثأ :الجوع؛ المرض؛ والموت ،فقال له النبي (صلى الله عليه وسلم): ولم؟ فقال أبو ذر:أحب الجوع ليرق قلبي؛ وأحب المرض ليخف ذنبي؛ وأحب الموت لألقى ربي، فقال النبي(صلى الله عليه وسلم) حبب إلى من دنياكم ثلاث الطيب؛ والنساء؛ وجعلت قرة عيني في الصلاة. وحينئذ تنزل جبريل عليه السلام وأقرأهم السلام وقال: وانأ أحب من دنياكم ثلاث تبليغ الرسالة؛ وأداء الأمانة؛ وحب المساكين؛ ثم صعد إلى السماء وتنزل مرة أخرى؛ وقال : الله عز وجل يقرؤكم السلام ويقول: انه يحب من دنياكم ثلاث لسانا ذاكرا ؛ وقلبا خاشعا؛ وجسدا على البلاء صابرا

Hadirin Yang Berbahagia
Riwayat yang sangat panjang itu kurang lebih artinya adalah: Suatu ketika Nabi Saw berkumpul bersama beberapa sahabatnya. Nabi bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yg kamu senangi dari dunia ini?” Abu Bakar menjawab, “Aku senang 3 hal: duduk bersamamu, memandangimu, dan menginfaqkan seluruh hartaku untukmu.” Lalu Nabi bertanya hal yg sama kepada Umar, dan Umar menjawab, “Aku juga senang 3 hal: amar ma’ruf, nahi mungkar, dan berkata benar meskipun pahit.” Kemudian Nabi bertanya kepada Utsman bin Affan, dan Ustman menjawab, “Akupun menyukai 3 hal: memberi makan kepada yang lapar, mengucap salam, dan sholat malam ketika orang-orang sedang tidur lelap.” “Lalu kamu, Wahai Ali?” Ali menjawab, “Aku juga menyukai 3 hal: memuliakan tamu, puasa di musim panas, dan memerangi kaum kafir.” Berikutnya Nabi menanyakan hal yang sama kepada Abu Dzar Al-Ghiffariy, dan ia menjawab, “Aku suka 3 hal: kelaparan, sakit, dan kematian!” Mendengar ini, Nabi bertanya lagi, “Wahai Abu Dzar, mengapa engkau menyukai 3 hal itu?” Abu Dzar menjawab, “Aku suka kelaparan supaya hatiku halus. Aku suka sakit supaya dosa-dosaku terhapus, dan aku suka kematian supaya aku segera sowan kepada Dzat yang aku rindukan. Kemudian setelah itu, Nabi Saw bersabda: Aku pun mencintai 3 hal di dunia ini, yaitu: wewangian, wanita, dan sholat. Berikutnya Malaikat Jibril turun mengucap salam kepada Nabi dan para sahabatnya, seraya berkata: aku juga cinta 3 hal dari dunia kalian ini, yaitu: menyampaikan wahyu kepada para Nabi, menjaga amanah, dan aku juga menyukai orang-orang miskin. Setelah berkata seperti itu, Malaikat Jibril menghilang sejenak dan kemudian datang kembali dan berkata, “Allah menitipkan salam-Nya kepada kalian semua, dan Allah berfirman bahwa Allah juga menyukai 3 hal di dunia ini, yaitu: lisan yang selalu berdzikir, hati yang khusyuk, dan jasad yang selalu bersabar.

Hadirin Rohimakumullah
Itulah sebuah riwayat panjang yang menceritakan bagaimana pembicaraan antara Nabi, para sahabatnya dan bahkan dengan Malaikat Jibril yang kemudian disambung oleh firman Allah.
Kesemua pernyataan sikap para sahabat Nabi dan sabda Nabi sendiri seperti tersebut di atas itu sungguh bisa kita renungkan secara panjang lebar. Namun dalam kesempatan terbatas ini, marilah pertama-tama kita telaah pernyataan sahabat Abu Bakar ketika beliau menjawab pertanyaan Nabi tentang apa yang disukainya. Dalam kesempatan khutbah yang lain, Insyaallah kita telaah pernyataan sahabat-sahabat Nabi yang lain.

Hadirin Rohimakumullah
Dalam riwayat tadi, menjawab pertanyaan Nabi tentang apa yang disenangi di dunia, Abu Bakar menyatakan: saya suka 3 hal yaitu: duduk bersama Nabi, memandangi Nabi, dan menginfaqkan seluruh hartanya untuk Nabi. Jawaban Abu Bakar itu jelas menunjukkan bahwa semua yang ada dalam diri beliau rodliyallahu ‘anhu ditotalitaskan kepada Kanjeng Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, han wa jasadan. Ini jelas merupakan seorang sahabat yang benar-benar sejati.
Dalam keseharian kita, kalau kita duduk bersama seorang alim saja akan mampu memberikan kita berbagai macam ilmu, maka bagaimana kalau kita duduk bersama sayyidu mu’allim an-nâs,Guru dari segala Maha Guru, yaitu Rasulullah Saw?
Kalau memandang seorang alim saja dapat menjadikan halusnya hati atas pancaran nur sang alim, maka bagaimana halnya dengan memandangi wajah khoirul basyar, sebaik-baik manusia?
Kalau menginfaqkan seluruh harta kepada seorang alim adalah perkara yang baik, bagaimana dengan menginfaqkan seluruh harta kepada sayyidul wujud, Rasulullah Saw.

Hadirin Rohimakumullah
Itulah sekelumit gambaran kesetiaan dan totalitas persahabatan Abu Bakar kepada Nabi Saw. Semoga kita bisa meneladani.
Insyaallah dalam kesempatan lain, kita akan lanjutkan pembahasan kita dengan menelaah sikap-sikap para sahabat Nabi sebagaimana tersebut dalam riwayat di atas.
الحديث: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم ، أو كما قال: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن، إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين، وإن عاقبتم فعاقبوا بمثل عوقبتم به ولئن صبرتم لهو خير للصابرين، واصبر وما صبرك إلا بالله ولا تحزن عليهم ولا تك في ضيق مما يمكرون
وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ, وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعَالَى إِنََّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ! إِنََّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ, وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكم, وَلَذِكرُ اللهِ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
  

 Sumber: NU Jateng

Khutbah Jum'at: Menjadi Pemimpin Sederhana

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ وَقَدَّرَ الأَشْيَاءَ، وَاصْطَفَى مِنْ عِبَادِهِ الرُّسُلَ وَالأَنْبِيَاءَ، بِهِمْ نَقْتَدِي وَبِهُدَاهُمْ نَهْتَدِي، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَنْزَلَ عَلَيْهِ رَبُّهُ الْقُرْآنَ الْمُبِيْنَ, هُدًى وَنُوْرًا لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ رِسَالَتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, وَآلِ كُلٍّ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Hadirin Jumah Yang Berbahagia
Tersebutlah seorang sahabat Nabi bernama Said bin Amir Al-Jumahy. Ia seorang yang zuhud, adil dan bijaksana. Oleh Sayidina Umar, ia ditunjuk sebagai Gubernur Suriah. Suatu ketika dalam sebuah beberapa rakyat Suriah disuruh Umar untuk mendaftar 10 nama rakyat Suriah yang paling miskin. Ternyata Gubernur Said berada di nomor 1 rakyat Suriah termiskin!
Melihat hal ini, Umar menangis tersedu-sedu dan memerintahkan untuk mengirimi Said uang sebesar 1000 dinar yang merupakan uang dari tabungan pribadi Umar, bukan uang dari kas negara seperti lazim dilakukan oleh pejabat-pejabat kita saat ini.

Hadirin Rohimakumullah
Kemudian ketika kiriman uang itu diterima Gubernur Said, ia berteriak keras seperti orang menerima sebuah berita buruk, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un!”. Mendengar teriakan ini, kontan istri Said bertanya, “ada gerangan apa wahai suamiku? Mengapa engkau berteriak seperti itu? apakah Umar wafat?”. Said menjawab, “bukan, tetapi yang aku terima ini lebih buruk daripada kematian Umar!”
“Umar telah mengirimi aku sepotong api neraka!” Subhanallah, Gubernur Said menganggap uang kiriman dari tabungan pribadi Umar itu sebagai sepotong api neraka. Bagi Said, gajinya sebagai Gubernur yang tak seberapa besar itu sudah cukup. Dan ia merasa tidak berhak menerima uang bonus dari Umar yang waktu itu adalah atasan Said.
Berikutnya, Said kemudian berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, maukah engkau merubah neraka ini menjadi surga?” Sang istri menjawab, “ya wahai suamiku tercinta! Aku bersedia memenuhi segala perintahmu, apalagi untuk membantumu meraih keridloan Allah”.
Maka Said dan istrinya (tanpa dikawal oleh pegawai-pegawai kegubernuran) kemudian membagi-bagikan uang kiriman Umar itu kepada fakir miskin dan yatim piatu serta janda-janda di Suriah.

Hadirin Rohimakumullah
Kisah Gubernur Said masih berlanjut. Kemudian setelah mendengar sikap Said seperti itu, maka Umar memutuskan mengunjungi Suriah untuk melihat secara langsung kondisi Suriah dan Gubernurnya.
Setiba di Suriah, Umar mengumpulkan seluruh rakyat beserta gubernurnya di sebuah masjid terbesar di sana. Di hadapan rakyat Suriah, Umar berkata, “Wahai saudara-saudaraku, ini aku Umar Khalifah kalian dan ini Said gubernur kalian. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian memiliki keluhan terhadap gubernur kalian dalam memimpin kalian atau dalam menjalankan roda pemerintahan di propinsi kalian ini?”
Berikutnya salah seorang wakil rakyat Suriah memberanikan diri maju dan berkata kepada Umar, “Wahai Sang Khalifah, segala puji bagi Allah. Sebenarnya kami tidak memiliki keluhan apapun terhadap Gubernur kami. Ia begitu adil dan zuhud hingga seperti yang kami laporkan pada paduka beberapa waktu lalu, Said gubernur kami itu adalah orang yang paling miskin di wilayah kami. Namun izinkan kami untuk melaporkan 3 hal yang selama ini menjadi ganjalan hati kami: pertama, gubernur kami setiap hari jika pergi ‘ngantor’ selalu kesiangan. Kedua, setiap akhir bulan, gubernur kami seharian penuh mengunci diri di rumahnya dan tak seorang pun bisa menemuinya. Dan ketiga, gubernur kami sering tiba-tiba pingsan di hadapan kami.
Mendengar ini, Umar langsung naik pitam dan bertanya kepada Said Sang Gubernur, “Wahai Said, benarkah semua keluhan rakyatmu itu?”. Said menjawab, “Benar, wahai Khalifah!”. Umar langsung menimpali, “Mengapa kamu seperti itu?”. Untuk beberapa saat Said diam seribu basa hingga Umar semakin marah dan berkata dengan nada tinggi, “Said, jawablah tiga keluhan itu satu persatu, atau aku akan menghukummu dengan hukuman yang berat!”.

Hadirin Rohimakumullah
Berikutnya Said menjawab, “Untuk keluhan pertama, sebenarnya aku malu menjawabnya, tetapi demi ketaatanku pada Khalifah, maka terpaksa aku haturkan bahwa aku setiap hari memang selalu kesiangan berangkat ke kantor. Itu karena aku tidak punya pembantu di rumah. Dan sejak setelah subuh, aku membantu istriku membuat roti untuk sarapan keluargaku, mulai dari menumbuk gandum hingga menunggu bahan roti mengembang dan kemudian menyulut panggangan roti hingga menyuapi anakanakku yang masih kecil.
Adapun untuk keluhan kedua, sebenarnya aku juga sangat malu untuk menjawabnya karena aku khawatir jawabanku nanti seolah-olah mengandung rasa kurang bersyukur kepada Allah. Tetapi sekali lagi karena ketaatanku padamu wahai Umar, maka dengan terpaksa aku mengakui bahwa setiap akhir bulan aku memang selalu mengunci diri di rumahku seharian penuh. Alasanku berbuat seperti itu karena bajuku memang hanya satu potong, yaitu yang aku pakai ini. Dan aku mencuci bajuku satu-satunya itu sebulan sekali dan aku menantinya hingga kering dari jemuran. ”
Mendengar ini, Umar menangis tersedu-sedu di hadapan ribuan rakyat Suriah hingga beberapa saat lamanya.
Setelah tangisnya reda, Umar bertanya lagi, “Lalu apa jawabanmu terhadap keluhan ketiga?”. Said menjawab, “Aku memang sering tiba2 pingsan, yaitu karena aku sering teringat pembantaian terhadap salah seorang Sahabat Nabi yang bernama Hubaib bin Uday di tangan kaum kuffar Quraisy. Waktu itu aku belum masuk Islam dan aku menyaksikan Hubaib dibantai di tengah-tengah alun-alun Mekkah dengan sangat sadis. Ia disayat-sayat kulitnya dan dimutilasi dalam keadaan hidup-hidup dan ia tidak berteriak kesakitan sedikitpun. Ia hanya berdoa, “Wahai Allah Engkau Maha Menghitung mereka yang menghadiri penyiksaanku ini. Maka balaslah mereka satu persatu dengan balasan yang setimpal! Allahumma ahshihim ‘adada waqtulhum badada. Demikian doa Hubaib”.
Kemudian Said menambahi, “dan aku waktu itu menyaksikan pembantaian itu dan aku khawatir jika aku termasuk dalam doa Hubaib itu. ”

Hadirin Rohimakumullah
Hampir menjadi keyakinan di hati kita bahwa cerita seperti itu kini mustahil ada dan terjadi di sekitar kita. Bahkan banyak di antara kita yang cenderung menganggap bahwa cerita-cerita seperti itu hanya khayalan belaka atau bahkan hanya pantas dijadikan sebagai dongeng atau legenda yang diceritakan kepada anak-anak kecil menjelang tidur.
Hampir menjadi keyakinan kita bahwa cerita-cerita seperti itu sangat fantastis hingga kita sulit untuk mempercayainya.
Baiklah, para hadirin yang mulia,
Jika kita masih memiliki pemikiran seperti itu atau jika kita cenderung berkata bahwa cerita-cerita seperti itu hanya mungkin terjadi karena setting dan latarbelakang sosial waktu itu memungkinkan. Kita hampir serempak sepakat bahwa seorang Gubernur dalam setting socialmasa sekarang adalah msutahil jika hanya memiliki satu potong pakaian karena itu tidak lazim dan tidak lumrah! Sebagaimana kita juga akan mudah mengkritik Said yang terlambat pergi ke kantor karena harus menumbuk gandum dan memanggang roti terlebih dahulu. Bagaimana mungkin seorang Gubernur atau bahkan kepala desa sekalipun pada saat ini harus menanak nasi hingga ia pergi ke kantor kesiangan.

Hadirin Rohimakumullah
Said pergi ke kantor kesiangan hanya sampai sekitar pukul 8 pagi! Dan kemudian Said bekerja di kantor hingga menjelang Maghrib. Ia makan sambil bekerja, bukannya mengkhususkan waktu sendiri untuk acara makan. Ia seringkali makan bersama tamunya yang kebanyakan adalah dari rakyat jelata yang kebetulan tengah bertamu kepada sang Gubernur. Apa yang dimakan oleh Said juga sama persis dengan apa yang dimakan oleh tamunya hingga tidak perlu menghabiskanbudget selangit untuk membiayai setiap penjamuan para tamu.
Sebagaimana yang juga menarik kita cermati dari kisah di atas adalah bahwa istri sang Gubernur sama sekali tidak mata duitan. Sang istri dengan sigap menyambut ajakan sang suami untuk membagi-bagikan uang 1000 dinar kepada yatim piatu dan fakir miskin yang kemudian justru menjadi lebih kaya ketimbang Gubernur Said sekeluarga, sebab gaji Said sebagai seorang Gubernur waktu itu tak lebih dari belasan dinar.
Istri Said adalah istri teladan yang justru tidak menggunakan kesempatan kemegahan sang suami sebagai pejabat negara utk berfoya-foya dan hanya mengenal satu mall ke mall yang lain atau tidak pernah tahu manakah rakyatnya yang tidak bisa makan seharian penuh! Istri Said tidak menuntut suaminya agar menyediakan pembantu rumah tangga dan Said sendirilah yang membantu sang istri dalam pekerjaan rumah. Said tidak mau menyediakan pembantu bagi istrinya, bukan karena ia pelit tetapi memang karena ia masih merasa mampu dan pantas jika sekedar melaksanakan salahsatu pekerjaan rumah yaitu menumbuk gandum dan memanggang roti. Subhanakallahumma.

Hadirin Rohimakumullah
Sekali lagi, menyimak cerita tersebut, banyak di antara kita yang cenderung menganggap cerita itu sebagai khayalan belaka. Atau bahwa cerita itu sudah tidak sesuai dengan pola hidup masa sekarang.  Bagaimana mungkin seorang Gubernur harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Bukankah kesibukan Gubernur sangat padat? Bukankah pola pemerintahan dan pergaulan protokoler pejabat sekarang ini sangat rumit dan memakan banyak waktu? Tidakkah dhalim jika waktu sang Gubernur digunakan untuk memanggang roti atau mencuci baju sendiri sementara pekerjaan kantor semakin menumpuk karena tanggung jawab kepemerintahan saat ini lebih rumit ketimbang tanggungjawab pemerintah masa lalu yang masih sangat sederhana?

Hadirin Rohimakumullah
Pertanyaan-pertanyaan seperti yang tersebut terakhir itu memang kelihatan sangat masuk akal. Tetapi sebenarnya kita bisa menjawabnya dengan pertanyaan-pertanyaan balik seperti berikut ini: Bukankah teknologi sekarang semakin canggih? Bukankah kecanggihan teknologi itu justru bertujuan untuk menyederhanakan dan mengefisienkan pekerjaan-pekerjaan kita? Mengapa justru kita temui pekerjaan kita semakin menumpuk dan tidak sederhana seperti pada masa-masa Gubernur Said, padahal teknologi kita justru semakin canggih? Ketika Said masih butuh mencuci dengan tangan sendiri, bukankah sekarang sudah ada mesin cuci full otomatis? Ketika Said masih butuh memanggang roti, bukankah sekarang kita tinggal membeli roti? Atau bukankah sekarang ini mudah ditemui oven otomatis atau microwave yang tidak perlu kita tunggui?

Hadirin Rohimakumullah
Kita seperti tidak pernah sadar bahwa kita ini memang semakin pintar mencari-cari alasan untuk mengelak dari tanggungjawab kita yang semestinya. Kita semakin pandai menyusun program-program kerja yang rumit dan tidak efisien serta sekedar hanya untuk menghabiskan anggaran, terutama ketika hendak mendekati masa-masa tutup buku keuangan.

Hadirin Rohimakumullah
Itulah sedikit renungan yang sudah selayaknya kita ambil intisarinya dengan penuh kelapangan hati, dengan ketawadlu’an dan kerendahan hati yang luas. Kita berharap agar cerita Said itu dapat sedikit mengetuk pintu hati kita, bukannya justru membuat kita tersinggung dan marah atau kalap dan mata gelap. Kita semua merasakan dan menyadari bahwa hidup kita dari hari ke hari semakin ruwet dan tidak sederhana seperti kehidupan-kehidupan di masa lalu. Kita terlanjur meyakini bahwa paham-paham modernisme yang kita anut itulah yang layak untuk kita jadikan sebagai panutan dalam kehidupan kita saat ini. Padahal bukankah kita sebenarnya sering merindukan kesederhanaan hidup seperti nenek moyang kita? Bukankah kita sekarang sering mendengar seruan back to nature, kembali ke alam yang asri, back to green, kembali ke hijau-hijaun, dan seterusnya dan seterusnya?
Bukankah seruan-seruan semacam itu sebenarnya merupakan bentuk kerinduan kita akan kesederhanaan hidup?
الحديث: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم ، أو كما قال: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن، إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين، وإن عاقبتم فعاقبوا بمثل عوقبتم به ولئن صبرتم لهو خير للصابرين، واصبر وما صبرك إلا بالله ولا تحزن عليهم ولا تك في ضيق مما يمكرون
وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ, وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعَالَى إِنََّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ! إِنََّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ, وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكم, وَلَذِكرُ اللهِ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

 sumber: nu Jateng

  • Tugas Siswa Di Sini
  • Download Di Sini
  •